
Siswa sekolah dan buku. [kgnewsroom]
Oleh : Anggun Gunawan
Hanya berselang beberapa bulan menjelang tahun ajaran baru 2024/2025
dimulai (Juli 2024), Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP)
Kemendikbudristek melaunching “Buku Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra”
yang dibingkai dalam tagline “Sastra Masuk Kurikulum” pada Senin 20 Mei 2024.
Ada 177 judul buku fiksi direkomendasikan oleh para kurator yang terdiri
dari para akademisi, sastrawan terkenal dan para pendidik dengan sebaran 43
karya untuk SD sederajat, 29 judul untuk jenjang SMP, dan 105 untuk SMA/SMK/MA.
Disebutkan juga bahwa proses penyeleksian sudah dimulai sejak tahun 2023
dan hasilnya adalah panduan setebal 784 halaman tersebut.
Jangkauan waktu terbit buku sastra terekomendasi yang menjelajah 1 abad
memang memberikan semacam diversifikasi sekaligus afirmasi terhadap buah karya
sastrawan-sastrawan Indonesia dari berbagai periode waktu dari zaman kejayaan
Balai Pustaka hingga era digitalisasi dewasa ini.
Tentu saja memilih 177 judul tersebut membutuhkan elaborasi yang sangat
tajam dan kritis terutama sekali terkait persebaran ideologi yang dianut oleh
seorang penulis (konon satu penulis se-terkenal dan se-produktif apapun
diupayakan direpresentasikan lewat 1-2 karya saja), genre dan tema yang
diangkat, relevansi cerita dengan situasi dan selera remaja masa kini termasuk
juga kecocokan narasi dan muatan konten buku dengan psikologi umur pembaca.
Eka Kurniawan, salah satu kurator dalam program ini memberikan testimoni
betapa sulitnya mencari buku sastra yang cocok dengan anak usia SMP. Sehingga
jumlah judul buku untuk kategori ini yang paling sedikit dibandingkan 2
kelompok umur lainnya.
Konon hal ini dikarenakan tim kurator mengalami kebimbangan antara
memasukkan buku sastra anak (children books) atau fiksi remaja (juvenile books)
untuk mereka.
Dari sisi penerbit sendiri, masuknya buku terbitan mereka dalam list
tersebut tentu akan menghadirkan “nafas baru” karena ini adalah angin segar
buat buku-buku mereka yang akan segera menjadi bacaan bagi 53 juta siswa dari
jenjang primary dan secondary level di seluruh Indonesia.
Meskipun belum jelas bagaimana proses pengadaan buku-buku sastra
tersebut, apakah sekolah yang akan menyediakannya buat siswa ataukah bisa
dibaca di platform baca yang disediakan oleh pemerintah?
Panduan yang “menyesatkan”
Saat buku panduan tersebut disebar dan dibaca oleh khalayak, ternyata
banyak persoalan serius yang menghinggapi.
Sastrawan Nirwan Dewanto malah meminta kepada pihak-pihak yang
bertanggung jawab dalam proses penerbitan “Buku Panduan Penggunaan Rekomendasi
Buku Sastra” (2024) itu untuk menghapus novelnya yang berjudul “Jantung Lebah
Ratu” dari daftar buku yang direkomendasikan.
Alasannya, ia melihat buku panduan tersebut dibuat “asal-asalan”, tidak
memenuhi standar editorial dan perwajahan buku yang layak.
Banyak kekeliruan informasi, baik yang dimuat dalam sinopsis buku maupun
profil sang penulisnya. Lebih gamblang lagi, Akmal Nasery Basral mengungkap
betapa parahnya isi buku tersebut. Akmal yang lahir di Jakarta malah tertulis
lahir di Bukittinggi. Tahunnya pun berubah dari 28 April 1968 ke 3 Juli 1946.
Jejak pendidikannya pun juga keliru. Disebutkan Akmal menempuh
pendidikan dasar dan menengah di Bukittinggi kemudian melanjutkan ke Jurusan
Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang.
Padahal Akmal tidak pernah menempuh pendidikan di kampung halaman
orangtuanya dan aslinya malah mahasiswa FISIP Universitas Indonesia.
Kekeliruan mendasar ini seolah-seolah memperlihatkan bahwa Buku Panduan
tersebut tidak ditulis secara serius dan tidak menunjukkan karya bersama
sastrawan, pendidik dan akademisi kawakan di Indonesia.
Hanya dengan sedikit usaha membuka google, profil seorang Akmal Nasery
Basral sebenarnya sudah tersaji dengan jelas.
Belum lagi kalau disidik lagi sinopsis buku yang direkomendasikan.
Banyak disinformasi yang dipertontonkan secara vulgar.
Sementara buku panduan itu isi utamanya adalah sinopsis buku dan profil
penulisnya. Namun, hal utama itulah yang malah penuh dengan “kecacatan” yang
akhirnya menyesatnya pembaca.
Anomali selera Gen Z
Ketika pemerintah akan mengintrodusir kebijakan yang mengarahkan selera
baca anak-anak Indonesia, dunia penerbitan malah mengalami anomali yang luar
biasa.
Kehadiran platform baca dan menulis seperti Wattpad telah mengubah
selera literasi anak-anak muda zaman now.
Mereka punya taste sendiri dengan bacaan yang mereka senangi. Dan
kebanyakan selera itu berbeda jauh dari Sebagian besar list buku-buku yang
direkomendasikan oleh Kemendikbud tersebut.
Banyak penerbit sastra remaja saat ini yang bela-belaan menyewa
anak-anak SMA menjadi editor freelance demi mengetahui seperti apa sih kesukaan
dan alur cerita yang diminati oleh para Gen Z ini.
Topik-topik cerita yang disenangi juga berbeda dengan konteks cerita
pemuda yang dimuat oleh karya-karya klasik Balai Pustaka, misalnya.
Jika novel-novel Balai Pustaka dan awal-awal kemerdekaan sangat kental
semangat perlawanan terhadap budaya lama, saat ini tema yang lagi hits di
kalangan remaja Indonesia adalah fatherless (kehilangan sosok ayah).
Politik Kanonisasi Sastra versus Merdeka Belajar
Kanonisasi sastra adalah proses pemilihan karya-karya sastra yang
dianggap bermutu tinggi/”adiluhung” oleh otoritas tertentu sehingga harus
menjadi bacaan wajib di berbagai level pendidikan, dipromosikan secara
terus-menerus kepada masyarakat dan terus ditempatkan sebagai bahan terbaik
untuk pembahasan-pembahasan ilmiah.
Otorisasi sastra ini bisa dilakukan oleh redaktur majalah atau surat
kabar sebagaimana yang pernah dilakukan oleh HB Jassin saat memimpin Majalah
Horison, Balai Pustaka saat masa kolonial dan penguasa Orde Baru saat
meminggirkan karya-karya sastrawan “kiri”.
Ketika pemerintah lewat Kemendikbud merasa perlu untuk memilihkan bacaan
sastra kepada siswa SD sampai SMA, sebenarnya itu mengingkari dari semangat
dari “Merdeka Belajar” yang menjadi tagline perubahan pendidikan yang diusung
oleh Nadiem Makarim.
Apabila ingin konsisten, seharusnya pemilihan bacaan yang sesuai itu
diberikan saja kepada para guru yang ada di setiap sekolah dan kepada siswa itu
sendiri.
Kemerdekaan untuk memilih buku yang hendak dibaca seharusnya tetap
diletakkan sebagai “personal choice” bukan “the state's imposition”.
Ketika siswa diberikan kebebasan untuk memilih buku sebenarnya kita
sedang mengembangkan motivasi intrinsik dalam diri mereka sehingga keinginan
untuk mengakses suatu buku bukan lagi dari paksaan luar, tapi datang dari diri
mereka sendiri.
Pemerintah pusat, menurut saya, tidak perlu bersusah payah untuk
memilihkan buku-buku tertentu bagi siswa-siswi sekolah.
Saat ini pilihan sastra buat anak-anak remaja, baik terbitan lokal
maupun luar negeri sudah sangat kaya dan beragam. Yang diperlukan adalah akses
terhadap teks-teks sastra tersebut.
Bagaimana koleksi perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, toko buku
ataupun rumah-rumah baca yang dikelola oleh komunitas memberikan ruang-ruang
pilihan yang kaya bagi mereka sehingga tinggal decision thinking masing-masing
siswa berjalan secara alami untuk menentukan sendiri mana judul yang menarik
dan penting bagi mereka.
Ekosistem yang sehat juga perlu ditumbuhkan untuk melahirkan
sastrawan-sastrawan muda baru yang memang mengenal betul “arus generasinya”.
Pengalaman saya sebagai dosen Penerbitan menunjukkan bahwa
talenta-talenta muda berkibar dengan semangat zamannya sendiri yang saya
sendiri sebagai Gen Milenial (kelahiran 1984 - yang sezaman dengan sebagian
besar kurator yang dipilih oleh Kemendikbud itu) masih cukup tergagap-gagap
memahami selera dan minat sastra mereka.
Pemerintah harus lebih memberikan perhatian intens kepada
penulis-penulis muda dari Gen Z ini karena karya-karya mereka begitu laris
manis di berbagai aplikasi baca digital.
Pada akhirnya, sastra yang hebat itu adalah sastra yang membebaskan
pikiran untuk berimajinasi. Panduan sebenarnya cukup diberikan kepada guru-guru
yang akan menjadi ujung tombak dari pengimplementasian program-program
pemerintah.
Jangan sampai guru sendiri ikut tergopoh-gopoh karena tidak familiar
dengan daftar 177 novel terekomendasi tersebut.
Program baru pemerintah kelihatannya keren, tapi malah membuat beban
guru semakin bertambah-tambah. Belum lagi umur politik Nadiem Makarim belum
jelas selepas Oktober 2024.
Meninggalkan legacy yang monumental tidaklah salah. Namun jangan sampai
program besar seperti ini terlalu dipaksakan dan terburu-buru, terus kemudian
hilang diganti dengan program baru oleh menteri yang baru.
Layaknya buku panduan sastra ini, yang hanya bertahan beberapa hari di website Kemendikbud, dan sejak 25 Mei kemarin tak lagi bisa diakses.



Posting Komentar